Jumat, 24 Juli 2015

Asesmen Pembelajaran, portofolio dan Jenis- jenis Evaluasi

A.    Pengertian Asesmen Pembelajaran
Secara umum, asesmen dapat diartikan sebagai proses untuk mendapatkan informasi dalam bentuk apapun yang dapat digunakan untuk dasar pengambilan keputusan tentang siswa baik yang menyangkut kurikulumnya, program pembelajarannya, iklim sekolah maupun kebijakan-kebijakan sekolah. Keputusan tentang siswa ini termasuk bagaimana guru mengelola pembelajaran di kelas, bagaimana guru menempatkan siswa pada program- program pembelajaran yang berbeda, tingkatan tugas-tugas untuk siswa yang sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan masing-masing, bimbingan dan penyuluhan, dan saran untuk studi lanjut.
Penilaian/assesment berdasarkan kompetensi merupakan suatu proses pengumpulan bukti secara sistematis serta pembuatan keputusan tentang perilaku seseorang terhadap standar kompetensi yang telah ditetapkan.
Asesmen secara sederhana dapat diartikan sebagai proses pengukuran dan non pengukuran untuk memperoleh data karakteristik peserta didik dengan aturan tertentu.
Menurut Dali S. Naga (2003) asesmen adalah proses untuk memperoleh informasi yang dapat digunakan pada evaluasi.
Jadi dapat disimpulkan bahwa asesmen merupakan salah satu bagian yang berada ddi dalam evaluasi dimana digunakan untuk proses memproleh suatu informasi.

a.     Macam-macam Assesment
1.      Pengertian Asesmen Otentik
Penilaian autentik juga dikenal dengan istilah penilaian “performance”, “approprite”, “alternative” atau “direct”.  Pada pengertian lain, penilaian autentik merupakan penilaian yang berusaha mengukur atau menunjukkan pengetahuan dan ketrampilan siswa dengan cara menerapkan pengetahuan dan ketrampilan itu pada kehidupan nyata.
Asesmen otentik adalah suatu proses evaluasi yang melibatkan berbagai bentuk pengukuran terhadap kinerja yang mencerminkan pembelajaran siswa, prestasi, motivasi, dan sikap-sikap pada aktifitas yang relevan dalam pembelajaran (American Librabry Association, Dalam Syofiana, 2010).
Penilaian autentik adalah suatu penilaian belajar yang merujuk pada situasi atau konteks “dunia nyata”, yang memerlukan berbagai macam pendekatan untuk memecahkan masalah yang memberikan kemungkinan bahwa satu masalah bisa mempunyai lebih dari satu macam pemecahan.
Senada dengan pendapat tersebut, O’malley dan Pierce (Dalam Anonim, tt) mengatakan bahwa asesmen otentik adalah bentuk penilaian yang menunjukkan pembelajaran siswa yang berupa pencapaian, motivasi, dan sikap yang relevan dalam aktivitas kelas. Sedangkan menurut Newton Public Schools (Dalam Syofiana, 2010) Asesmen otentik merupakan penilaian terhadap produk-produk dan kinerja yang berhubungan dengan pengalaman-pengalaman kehidupan nyata peserta didik.
Asesmen otentik merupakan suatu proses evaluasi yang melibatkan berbagai bentuk pengukuran yang berupa produk-produk dan kinerja yang mencerminkan pembelajaran siswa, pencapaian, prestasi, motivasi, dan sikap-sikap peserta didik pada aktifitas yang relevan dalam pembelajaran di kelas.
Schiemer (2000) mengklasifikasikan asesmen itu ke dalam asesmen otentik dan asesmen alternatif. Asesmen dikatakan otentik manakala siswa mendemonstrasikan perilaku yang diharapkan dalam situasi nyata misalnya bermain sepakbola dengan teman-temannya atau bermain lempar tangkap dengan keluarganya.

2.      Pengertian Asesmen alternative
Penilaian alternatif adalah penerapan berbagai cara dan penggunaan beragam alat penilaian untuk memperoleh informasi tentang sejauh mana hasil belajar peserta didik atau ketercapaian kompetensi (rangkaian kemampuan) peserta didik.
Schiemer (2000) menjelaskan bahwa asesmen alternatif menuntut siswa menggunakan keterampilan berpikir yang lebih tinggi misalnya keterampilan memecahkan masalah dan membuat keputusan. Dalam kasus ini, siswa dituntut mendemonstrasikan perilaku, pengetahuan, dan keterampilan yang diharapkan dalam situasi dan kondisi yang terkendali.

b.     Pengertian portofolio
Dalam kalangan seniman misalnya, ada portofolio yang berarti kumpulan hasil karya terbaik seorang seniman, yang sengaja diadakan untuk keperluan pameran. Dalam dunia pendidikan, portofolio adalah kumpulan hasil karya seorang siswa, sebagai hasil pelaksanaan tugas kinerja, yang ditentukan oleh guru atau oleh siswa bersama guru, sebagai bagian dari uasaha mencapai tujuan belajar, atau mencapai kompetensi yang ditentukan dalam kurikulum.
Portofolio adalah sekumpulan artefak (bukti karya/kegiatan/data) sebagai bukti (evidence) yang menunjukkan perkembangan dan pencapaian suatu program.
Hal ini juga dijelaskan oleh Schiemer (2000) mengartikan istilah portopolio sebagai suatu koleksi karya siswa yang mencerminkan tingkat keberhasilan belajarnya di kelas, atau di sekolah, bahkan karya siswa yang diperlombakan pada berbagai tingkat.

c.      Jenis- jenis Evaluasi
Dalam sistem pembelajaran (maksudnya pembelajaran sebagai suatu sistem), evaluasi merupakan salah komponen penting dan tahap yang harus ditempuh oleh guru untuk mengetahui keefektifan pembelajaran. Hasil yang diperoleh dapat  dijadikan  balikan  (feed-back)   bagi  guru  dalam  memperbaiki  dan menyempurnakan program dan kegiatan pembelajaran. Di sekolah, Anda sering mendengar bahwa guru sering memberikan ulangan harian, ujian akhir semester, ujian blok, tagihan, tes tertulis, tes lisan, tes tindakan, dan sebagainya. Istilah-istilah ini pada dasarnya merupakan bagian dari sistem evaluasi itu sendiri. Adapun dalam evaluasi terdapat jenis- jenis sebagai berikut:
Ø  Tes Formatif
istilah formatif itu berasal dari kata form yang dapat diatikan sebagai bentuk. Tes formatif adalah tes hasil belajar yang bertujuan untuk mengetahui, sudah sejauh manakah peserta didik “telah terbentuk” (sesuai dengan tujuan pengajaran yang telah ditentukan) setelah mereka mengikuti proses pembelajaran dalam jangka waktu tertentu. Perlu diketahui bahwa istilah “formatif” itu berasal dari kata “form” yang berarti “bentuk”. (Sudijono, 2005 : 71). Evaluasi Formatif juga berguna dalam menganalisis materi pembelajaran, dan prestasi belajar siswa, dan efektifitas guru. (Wally Guyot (1978).
Evaluasi formatif adalah mengetahui sejauh mana program yang dirancang dapat berlangsung, sekaligus mengidentifikasi hambatan. Dengan diketahui hambatan dan hal-hal yang menyebabkan program tidak lancar, pengambilan keputusan secara dini dapat mengadakan perbaikan yang mendukung kelancaran pencapaian tujuan program.
evaluasi formatif merupakan suatu jenis evaluasi yang disajikan di tengah program pengajaran yang mempunyai fungsi untuk memantau (memonitor), dimana untuk dpat mengetahui kemauan belajar siswa dalam kesehariannya pada proses kegiatan belajar mengajar demi memberikan suatu umpan balik, baik kepada siswa maupun seorang guru.
tes hasil belajar Evaluasi formatif (Formatif Test) adalah suatu dimana evaluasi tersebut mempunyai suatu tujuan untuk dapat mengetahui, sudah sejauh manakah peserta didik itu telah terbentuk (sudah sesuai dengan tujuan pengajaran yang telah ditentukan) setelah mereka mengikuti suatu proses pembelajaran dalam jangka waktu tertentu
Penilaian formatif adalah kegiatan penilaian yang bertujuan untuk mencari atau memperoleh sebuah umpan balik (feed back), yang kemudian selanjutnya dari hasil penilaian tersebut dapat digunakan untuk memperbaiki suatu proses belajar mengajar yang sedang atau yang sudah dilaksanakan.

Ø  tes sumatif 
tes sumatif  adalah suatu penilaian yang pelaksanaannya itu dilakukan pada akhir tahun atau akhir program, atau lebih spesifiknya penilaian yang dilakukan pada akhir semester dari akhir tahun.
Penilaian sumatif adalah penilaian yang dilakukan untuk memperoleh data atau informasi sampai dimana penguasaan atau pencapaian belajar siswa terhadap bahan pelajaran yang telah dipelajarinya selama jangka waktu tertentu.
Fungsi Evaluasi Sumatif yaitu untuk menentukan angka nilai murid setelah mengikuti program pengajaran dalam satu catur wulan, semester akhir tahun atau akhir dari suatu program bahan pengajaran dari suatu unit pendidikan. Dan untuk memperbaiki situasi proses beljar mengajar kearah yang lebih baik serta untuk kepentingan penilaian selanjutanya.



DAFTAR PUSTAKA
Ø  Anonim. tt. Penilaian Otentik | Kajian Sosiolinguistik: Kajian Teoretis dan Praktis. Tersedia pada: http://wordpress.com/evaluasi-pembelajaran-bahasa/penilaian-otentik/. diakses pada tanggal 24 Oktoberber 2013
Ø  Dantes, Nyoman. 2008. Hakikat Asesmen Otentik Sebagai  Penilaian  Proses Dan Produk Dalam Pembelajaran Yang Berbasis Kompetensi. Singaraja: Universitas Pendidikan Ganesha
Ø  Rizfadli. 2009. Asesmen Otentik. Tersedia pada: http://rizfadli.blogspot.com/2009/12/asesmen-otentik.html. diakses pada tanggal 24 Oktoberber 2013
Ø  Syofiana. Mardiah. 2010. Autentik Asesmen. Tersedia pada: http://sofya6.blogspot.com/2010/11/autentik-asesmen.html. diakses pada tanggal 24 Oktoberber 2013
Ø  Anonim. 2009. http://budimeeong.wordpress.com/Alternatif assesment mbs 2 diakses pada tanggal 20 Desember 2009.
Ø  Anonim. 2003. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan . Jakarta: Depdiknas.
Ø  Asmawi, Z . 1994 . Penilaian Hasil Belajar. Jakarta: Dirjen Dikti Depdikbud.
Ø  Galton, M. 1990). Assessing Science in the Primary School: Written Task. London: Paul Chapman Publishing Ltd
Ø  Nugrah, A. 1998 . Penggunaan Performance Assessment untuk Meningkatkan Efektivitas Pembelajaran IPA.  Bandung : IKIP Bandung.
Ø  H. Darsono dan T. Ibrahim, 2009, Tonggak Sejarah Kebudayaan Islam Jilid 3 untuk Kelas IX Madrasah Tsanawiyah, Solo: PTTiga Serangkai Pustaka Mandiri.

Ø  Arikunto, Suharsimi, Drs. 1997. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan Jakarta : Bumi Aksara. Cet. 3.

Teknik dasar manipulatif friction (Gerusan) pada massage

A.   Teknik dasar manipulatif friction (Gerusan)
Manipulasi friction merupakan salah satu teknik dasar yang digunakan di dalam massage yang mengunakan jari- jari tangan, telapak tangan dan siku yang berpungsi agar otot- otot pada tubuh menjadi rileks  (otot tidak mengeras akibat timbunan sisa- sisa pembakaran kalori pada otot).


Manipulasi friction adalah manipulasi dengan cara menggerus. Tujuannya adalah menghancurkan myoglosis yaitu timbunan dari sisa-sisa pembakaran yang terdapat pada otot dan menyebabkan pengerasan serabut otot. Friction atau menggerus adalah prosedur yang sangat tua dan banyak dipergunakan dalam semua bentuk masase. Pelaksanaanya adalah dengan gerakan putaran spiral menuju ke arah jantung. Menurut letak dan tempat bagian badan, maka manipulasi ini dapat dilakukan dengan bermacam-macam variasi yaitu dengan menggunakan jari, ibi jari, telapak tangan atau bahkan dengan sikut.
Menggerus dengan menggunakan jari jempol (jari yang paling kuat), kepalan tangan, pangkal telapak tangan atau dengan siku tangan.
Bertujuan untuk melancarkan system sirkulasi darah, menimbulkan hiperamia, pembesaran serabut otot dari refleks vaskuler, hormonal dan syaraf, baik untuk schele post trauma (regenerasi jaringan) dan akan mengurangi rasa nyeri otot.
Teknik pijat friction menggunakan bagian jari jempol, yaitu melakukan gerakan melingkar kecil-kecil dengan penekanan yang lebih dalam dengan menggunakan ibu jari tersebut. Gerakan ini digunakan pada area tubuh tertentu seperti betis, trepezium dan lain-lain, dengan maksud untuk penyembuhan ketegangan otot dan rasa pegal pada persendian. Dalam melakukan gerakan friction boleh menggunakan ujung jari, buku jari bahkan siku tangan. Untuk melepaskan bagian otot yang tegang dapat menggunakan gerakan memutar (putaran kecil) dari jari jempol. Gerakan ini efektif jika dilakukan pada setiap sisi tulang belakang.Teknik ini bermanfaat untuk melepaskan bagian-bagian otot yang kejang yang terbentuk sebagian akibat stress dan ketegangan, dapat menghilangkan akumulasi dari sisa-sisa metabolisme.
Pijat friction dapat membantu memecah deposit lemak, oleh karena itu bermanfaat dalam kasus obesitas, sangat efektif menghilangkan benjolan bekas luka yang telah sembuh sempurna dan bermanfaat mengurangi tonjolan pada lutut seperti platella dan meningkatkan temperatur tubuh dengan cara meningkatkan aktivitas sel-sel tubuh sehingga aliran darah lebih lancar. Saat memijat teknik friction dilakukan berangsur-angsur menekan jaringan tubuh makin lama makin keras, sesuai dengan toleransi tubuh yang dipijat, namun tidak menekan secara berlebihan agar tidak terasa sakit. Saat melakukan gerakan friction tidak membungkukkan pundak untuk menekan, karena akan mengakibatkan kelelahan. Gerakan pijat dilakukan dengan menggerakan jaringan di bawah kulit, tidak hanya kulitnya saja.
Pengaruh mekanis dari friction menghasilkan kelancaran aliran darah setempat (vasodilatasi local), merangsang pergantian nutrisi, dan juga sebagai pemanasan.
Pengaruh fisiologis adalah aksi friction di dalam melancarkan aliran darah dan pembesaran serabut otot.


DAFTAR PUSTAKA
Ø Rahim . S.A. dr, Massage Olahraga, Pustaka Merdeka Cet I,1987
Ø  Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Sport Massage, Dit. Jen. Pendidika Luar Sekolah, Pemuda dan Olahraga Departemen Pendidikan dan Kebudayaan R.I Dip. Tahun 1980/1981
Ø  Basoeki Hadi. Drs, Sulistyorini.Drs. M.Pd,2009, Sport Massage seni pijat untuk atlit/olahragawa dan umum.Tingola:Jakarta

Ø  chichibernardus. 2008. Pijat Sport. http://www.chichibernardus.com. 06 agustus

Teknik dasar manipulative petrissage (Meremas) pada massage

A.    Teknik dasar manipulative petrissage (Meremas)
manipulative petrissage (Meremas) merupakan salah satu teknik dasar pada massage dengan cara meremas otot dengan menggunakan jari- jari tangan untuk elastisitas jaringan- jaringan otot.


Petrissage adalah prosedur masase yang dilakukan dengan teknik perasan, tekanan, dan pencomotan otot dari jaringan dalam. Petrissage adalah gerakan pemijatan dengan tekanan yang dalam dan memampatkan otot yang mendasarinya. Adonan, meremas-remas, kulit bergulir dan pick-up dan memeras adalah gerakan Petrissage. Mereka semua dilakukan dengan permukaan palmar empuk tangan, permukaan jari dan juga ibu jari. Selama menguleni, tangan harus dibentuk ke daerah dan gerakan harus lambat dan berirama. Knuckling adalah bentuk lain dari memijat tetapi menggunakan buku-buku jari untuk diremas-remas dan lift dimelingkar dan gerakan ke atas. Scissoring lain Petrissage gerakan yang dilakukan hanya di daerah yang datar dengan tekanan yang sangat sedikit. Jari telunjuk dan tengah kedua tangan hanya digunakan untuk gerakan ini. Mereka ditempatkan berlawanan satu sama lain dan kemudian secara perlahan bekerja terhadap satu sama lain mengangkat dan melepaskan mereka pergi.
Petrissage dapat dilakukan dengan satu tangan atau kedua tangan dengan gerakan bergelombang, berirama, tidak terputus-putus dan terikat satu sama lain. Gerakan diulang-ulang beberapa kali pada tempat yang sama, kemudian tangan dipindah-pindahkan sedikit demi sedikit sepanjang kumpulan otot.
Pengaruh mekanis yang ditimbulkan oleh gerakan peras adalah menghancurkan sisa-sisa pembakaran dan melemaskan kekakuan di dalam jaringan
Pengaruh fisiologis dari manipulasi petrissage terutama berhubungan dengan suatu perintah latihan bagi saraf motorik yang merangsang fungsi otot. Selain itu gerakan mengangkat, memeras dan menekan menyebabkan perbaikan aliran darah dalam otot dan menambah kekuatan (tonus) otot.
Meremas dengan jari dan tangan dimulai mengangkat, menjepit jaringan otot, mencomot dan meremas. Gerakan meremas dilakukan secara bergantian antara tangan kanan dan kiri.
Tujuan manipulasi ini untuk mengembangkan elastisitas, mengaktifkan aliran darah, memperbaiki pergantian nutrisi dan pembuangan (ekskresi), merangsang syaraf motorik, memperbaiki fungsi otot dan sangat bagus untuk olahragawan dan pekerja keras.
Meremas dengan jari dan tangan dimulai mengangkat, menjepit jaringan otot , mencomot dan meremas. Gerakan meremas dilakukan secara bergantian antara  tangan kanan dan kiri. Tujuan manipulasi ini untuk mengembangkan elastisitas, mengaktifkan aliran darah, memperbaiki pergantian nutrisi dan pembuangan (ekskresi),merangsang syaraf motorik, memperbaiki fungsi otot dan sangat bagus untuk olahragawan dan pekerja keras.


B.    Manfaat
Adapun manfaat dari massage dengan teknik dasar manipulasi pertissage adalah sebagai berikut:
Ø  Dengan bergantian meremas dan santai, pembuluh darah dan pembuluh limfatik dikosongkan dan diisi, membawa nutrisi segar untuk otot-otot.
Ø  Setiap racun yang telah terakumulasi dihapus dari jaringan yang lebih dalam.
Ø  Petrissage sangat berharga dalam membantu untuk memecah dan menghapus deposit lemak disekitar, bahu paha dan bokong.
Ø  Hal ini juga membantu untuk mencegah kekakuan otot setelah latihan dan dapat meredakan kejang otot.
Adapun untuk menghinari terjadinya Kesalahan saat menggunakan teknik dasar petrissage yaitu  Pastikan bahwa anda menggunakan seluruh tangan anda bukan hanya jari-jari anda dan ibu jari anda dan Ambil otot dan bukan kulit saat melakukan massage jika tidak, ada bahaya mencubit daging serta Jangan geser jari anda di atas kulit penerima.
Meremas dengan jari dan tangan dimulai mengangkat, menjepit jaringan otot, mencomot dan meremas. Gerakan meremas dilakukan secara bergantian antara tangan kanan dan kiri. Tujuan manipulasi ini untuk mengembangkan elastisitas, mengaktifkan aliran darah, memperbaiki pergantian nutrisi dan pembuangan (ekskresi), merangsang syaraf motorik, memperbaiki fungsi otot dan sangat bagus untuk olahragawan dan pekerja keras.




DAFTAR PUSTAKA
Ø  Rahim . S.A. dr, Massage Olahraga, Pustaka Merdeka Cet I,1987
Ø  Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Sport Massage, Dit. Jen. Pendidika Luar Sekolah, Pemuda dan Olahraga Departemen Pendidikan dan Kebudayaan R.I Dip. Tahun 1980/1981
Ø  Basoeki Hadi. Drs, Sulistyorini.Drs. M.Pd,2009, Sport Massage seni pijat untuk atlit/olahragawa dan umum.Tingola:Jakarta
Ø  chichibernardus. 2008. Pijat Sport. http://www.chichibernardus.com. 06 agustus

Teknik Dasar Manipulatif Effleurage (Melulut Atau Menggosok) pada massage

A.    Teknik Dasar Manipulatif  Effleurage (Melulut Atau Menggosok)
Manipulasi efflurage merupakan salah satu teknik dasar dalam massage dimana caranya dengan menggosok atau mengelus- elus dengan menggunakan telapak tangan.


                               gambar: http://fitriafoil.blogspot.com/

Manipulasi efflurage adalah manipulasi dengan cara menggosok-gosok atau mengelus-elus. Effleurage adalah gerakan usapan, baik dilakukan dengan telapak tangan atau bantalan jari tangan. Manipulasi friction adalah manipulasi dengan cara menggerus. Tujuannya adalah menghancurkan myoglosis yaitu timbunan dari sisa-sisa pembakaran yang terdapat pada otot dan menyebabkan pengerasan serabut otot.
Effleurage atau nama lainnya menggosok adalah gerakan pijatan ringan yang berirama yang dilakukan pada seluruh permukaan kulit tanpa terjadi gerakan otot bagian dalam. Gerakan pijatan effleurage ini menggunakan seluruh permukaan telapak tangan dan jari untuk menggosok daerah tubuh yang akan dipijat dengan gerakannya tetap dan tekanan yang di berikan searah dengan aliran darah balik. Tujuan pijatan effleurage ini adalah memperlancar peredaran darah dan cairan getah bening sehinggga tubuh terasa lebih baik dari sbelumnya, sehat dan bugar kembali.
Teknik dasar manipulasi effleurage biasa juga di katakan teknik menggosok adalah teknik ini yaitu menggunakan seluruh telapak tangan untuk menggosok seluruh pada pada pasien dengan gerakan yang sama dan nyaman serta berirama dengan menggosok pada seluruh bagian tubuh pasien. sehingga badan terasa lebih relak pada otot.
    Teknik dasar manipulatif effleurage juga bermanfaat untuk memperlancar peredaran darah pada tubuh dan cairan getah benih. Teknik ini juga harus menggosok pada bagian tubuh yang lebar dan tebal.
Gerakan manipulative efflurage ini dapat dilakukan dengan ringan ataupun dengan sedikit penekanan. Gerakan ringan seperti ini biasanya digunakan untuk meratakan minyak pijat, pengenaan gerakan (sebagai gerakan permulaan) maupun menenangkan kembali jaringan otot yang telah dirangsang dengan gerakan-gerakan lainnya, misalnya: Effleurage adalah gerakan usapan, baik dilakukan dengan telapak tanganatau bantalan jari tangan. Gerakan ini dapat dilakukan dengan ringan ataupun dengan sedikit penekanan. Gerakan ringan biasanya digunakan untuk meratakan minyak pijat, pengenaan gerakan(sebagai gerakan permulaan) maupun menenangkan kembali jaringan otot yang telah dirangsang dengan gerakan-gerakan lainnya, misalnya: Effleurage adalah salah satu teknik pijat yang paling umum digunakan. Menggunakan suksesi gerakan membelai atau meluncur cahaya atau dalam, tukang pijat tukang pijat atau mengapung di kontur tubuh. Terapis menggunakan permukaan datar, seperti tangan atau lengan. Dia bergerak dengan rendah gesekan atas hamparan besar kulit, menerapkan tekanan moderat. Setelah selesai ringan, memberikan stimulasi yang menyenangkan pada kulit. Diterapkan dengan tekanan lebih, dapat menghasilkan efek positif pada sirkulasi. Hasil sendi pijat, santai menenangkan.Dalam Effleurage cahaya, hanya ada sentuhan dangkal menggunakan tangan kontak penuh, hampir seperti kain halus yang sedang menutupi seluruh permukaan. Tidak ada beriak ataumenarik-narik kulit dan efeknya adalah di bawah tingkat menggelitik. Ketika dilakukan di stroketerus menerus, satu tangan mengikuti lain dengan sisi ulnaris terkemuka. Tepi di sisi jari kelingkingdisebut 'ulnaris', karena terletak di sisi yang sama dari lengan sebagai tulang ulnaris. Sebuah variasi melibatkan membentuk 'V' dengan kedua tangan yang terletak ringan di kontur kaki, kecil daridepresi kembali dan lainnya. Tangan kemudian bergerak bersama-sama di atas permukaan, bersama membentang panjang otot. Ketika tekanan meningkat, ini menjadi Effleurage dalam, yang sama-sama menyenangkan untuk klien, tetapi dalam cara yang berbeda. Peningkatan tekanan merangsang lapisan kulit (yang 'subkutan' di bawah permukaan) untuk merangsang fasia. Sebuah riak kecil diproduksi, dengan menarik menciptakan sensasi menyenangkan. Peningkatan tekanan, ke titik bahwa jaringan otot bergerak, menghasilkan stroke gesekan. Tangan harus tetap lentur, sementara terapis bervariasi permukaan atau bagian yang digunakan kadang-kadang datar telapak, kali lainujung jari. Horisontal vertikal membelai berikut meluncur, kemudian shingling, bi-lateral stroke pohon dan variasi lainnya. Pohon-stroke melibatkan mulai sepanjang garis pusat, seperti tulang belakang, kemudian bergerak ke luar, jari-jari terentang untuk membuat cabang-cabang kecil. Shingling dicapai dengan menggunakan satu tangan berikut lain, bekerja sepanjang bujur dari sisi atau belakang atau kaki. Meluncur kontak penuh diterapkan di seluruh permukaan besar dari belakang. Kemudian gerak yang bervariasi dengan menggunakan satu tangan memperkuat di atas yang lain, dengan gesekan tangan di bawah menerapkan, tangan atas digunakan untuk meningkatkan tekanan. Kadang-kadang teknik ini akan diubah dengan menggunakan lengan.
Tujuan diberikan teknik effleurage antara lain untuk menetapkan kontak fisik dengan pasien agar tidak terasa asing, berdampak positif secara fisiologis dengan mempercepat pergantian metabolisme dan sangat cocok untuk treatment kecantikan. Tujuan dari manipulasi efflurage adalah untuk mempelancar peredaran darah.
Adapun teknik masase ini digunakan sebagai manipulai pembuka dan penutup saat melakukan massage. Pelaksanaan dan cara melakukannya adalah jari-jari tangan rapat mencakup otot, gosokan menuju arah jantung dan dilakukan secara berirama dan kontinyu.
Pengaruh mekanis dari effleurage adalah membantu kerja pembuluh darah balik (vena) dan menyebabkan timbulnya panas tubuh sehingga manipulasi effleurage dapat berfungsi sebagai pemanasan (warming up).
Pengaruh fisiologis dari gosokan yang kuat menggunakan teknik ini mempengaruhi sirkulasi darah pada jaringan yang paling dalam dan di otot-otot. Sedangkan gosokan sedang lebih mengaktifkan sirkulasi pada pembuluh getah bening (lymphe), sedangkan gosokan lamban menghasilkan pelebaran pembuluh darah (vasodilatasi) local dengan waktu lama yang disebut hyperaemi.
Adapun yang menjadi manfaat efflurage yaitu dapat membantu menghancurkan myoglosis dan mengurangi kontraksi otot sehingga letak otot dapat kembali ke posisi semula tanpa mengganggu kelancaran peredaran darah yang sedang menghantarkan sisa-sisa dari proses myglosis atau asam laktat dari perlakuan grip manipilasi tersebut. 
Effleurage adalah teknik manipulasi massage yang dilakukan dengan menggosok, yang arah gerakannya centripetal mengarah ke jantung menurut arah aliran darah vena dan cairan lymphe. Manipulasi ini disebut juga mengurut/melulut. Adapun cara pelaksanaan yaitu Dapat dilakukan dengan seluruh permukaan tangan, dengan lengkungan antara ibu jari dan jari telunjuk, maupun dengan bagian lateral ibu jari,penekanan meningkat sedikit demi sedikit tetapi dengan waktu penekanan kian melambat. Penerapanpun bisa dilakukan pada seluruh bagian tubuh kecuali perut dan kepala.



DAFTAR PUSTAKA
Ø  Rahim . S.A. dr, Massage Olahraga, Pustaka Merdeka Cet I,1987
Ø  Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Sport Massage, Dit. Jen. Pendidika Luar Sekolah, Pemuda dan Olahraga Departemen Pendidikan dan Kebudayaan R.I Dip. Tahun 1980/1981

Ø  Basoeki Hadi. Drs, Sulistyorini.Drs. M.Pd,2009, Sport Massage seni pijat untuk atlit/olahragawa dan umum.Tingola:Jakarta

Teknik Dasar Manipulatif Skin Rolling (Melipat Kulit) pada massage

A.    Teknik Dasar Manipulatif Skin Rolling (Melipat Kulit)
Manipulasi ini dimaksudkan untuk melepaskan kulit dari jaringan ikat, dan melebarkan pembuluh kapiler (rambut) dibawah kulit. Bertujuan untuk mempertinggi tonus dan memperbaiki pertukaran zat serta peredaran darah dibawah kulit.
manipulasi skin rolling merupakan salah satu teknik dasar pada massage dimana mengunakan jari- jari tangan dengan gerakan menarik kulit biasanya pada belakang tubuh seperti menarik kulit lalu menggelindingkan menuju ke arah atas sampai ke pundak.

Manipulasi ini ditujukan untuk melepaskan kulit dari jaringan ikat, dan melebarkan pembuluh kapilair (rambut) di bawah kulit. Adapun tujuannya adalah untuk memepertinggi tonus dan memperbaiki pertukaran zat serta peredaran darah di bawah kulit.
Sering kali dilakukan untuk masase penyembuhan (terapi). Pada tempat-tempat yang permukaannya sempit (kecil) dapat dikerjakan dengan menggunakan satu tangan, sedangkan untuk tempat-tempat yang lebar dikerjakan dengan kedua tangan secara bersama-sama. Caranya dengan mencubit kulit, ibu jari didorongkan dan jari-jari yang lain melangkah-langkah berjalan ke depan.
Pengaruh mekanis adalah aksi skin rolling dalam mempertinggi tonus otot dan memperbaiki pertukaran zat serta peredaran darah di bawah kulit.
Pengaruh fisiologis dapat melepaskan kulit dari jaringan ikat dan melebarkan pembuluh kapiler di bawah kulit.
Skin roling (melipat kulit) adalah salah satu teknik pijat dengan pegangan tangan untuk melipat kulit di daerah punggung dan pinggang. Gunanya, untuk melancarkan peredaran darah, khususnya bagian pinggang ataupun punggung. Juga mengembalikan kelenturan jaringan dan otot-otot pinggang-punggung, serta membantu melancarkan proses oksidasi atau penguapan pori-pori sekaligus mendorong kotoran cairan limpha ke dalam saluran pembuangan.
Bentuk manipolasi skin roling pijatan, pertama-tama sikap tangan seperti mencubit kulit kemudian digerakan dengan jari-jari bergerak maju, ibu jari bergerak ke depan mendorong menekan di belakang jari-jari. Pijatan dimulai dari tepi punggung sebelah kiri di bawah ketiak kiri menuju columna vertebralis dan kedua ibu jari mendorong sert a menekan sambil menyusur di belakang jari-jari. Pijatan diulang lima kali, selanjutnya berpindah dari tepi punggung sebelah kanan. Pijatan dilakukan pada seluruh daerah pinggang atau punggung.
Variasi kedua dimulai dari L5 menyusur ke atas sampai bahu. Sesudah sampai di bahu seluruh jari-jari tangan meremas otot-otot bahu kiri kanan kemudian ditekan sambil ditarik diangkat dari tulang yang kuat. Pijatan diulang lima kali, mulai dari sebelah kiri columna lalu pindah ke sebelah kanan. Skin roling merupakan variasi pijatan yang digunakan untuk pengobatan. Karena itu, pijatan segment massage ini perlu bantuan orang lain. Seperti saudara atau teman atau bisa pula datang ke ahli pijat.



DAFTAR PUSTAKA
Ø  Rahim . S.A. dr, Massage Olahraga, Pustaka Merdeka Cet I,1987
Ø  Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Sport Massage, Dit. Jen. Pendidika Luar Sekolah, Pemuda dan Olahraga Departemen Pendidikan dan Kebudayaan R.I Dip. Tahun 1980/1981
Ø  Basoeki Hadi. Drs, Sulistyorini.Drs. M.Pd,2009, Sport Massage seni pijat untuk atlit/olahragawa dan umum.Tingola:Jakarta
Ø  chichibernardus. 2008. Pijat Sport. http://www.chichibernardus.com. 06 agustus




Minggu, 12 Juli 2015

INSTRUMEN, TES DAN PENGUKURAN

A.    Pengertian instrument
Instrumen merupakan  suatu alat yang dapat dipergunakan sebagai alat untuk mengukur suatu obyek ukur atau mengumpulkan data mengenai suatu variable dengan memenuhi syarat- syarat dan ketentuan dari akademis. Dalam bidang pendidikan, instrument digunakan untuk mengukur prestasi belajar siswa.
Instrument adalah alat yg dipakai untuk mengerjakan sesuatu (seperti alat yang dipakai oleh pekerja teknik, alat-alat kedokteran, optik, dan kimia), perkakas, sarana penelitian (berupa seperangkat tes dan sebagainya) untuk mengumpulkan data sebagai bahan pengolahan.
Menurut Suharsimi Arikunto (2010:265), instrumen pengumpulan data adalah alat bantu yang dipilih dan digunakan oleh peneliti dalam kegiatannya mengumpulkan data agar kegiatan tersebut menjadi sistematis dan dipermudah olehnya.
Hal ini juga dijelaskan oleh Ibnu Hadjar (1996:160) yang berpendapat bahwa instrumen merupakan alat ukur yang digunakan untuk mendapatkan informasi kuantitatif tentang variasi karakteristik variabel secara objektif.
Sementara itu, Sumadi Suryabrata (2008:52) menyatakan bahwa instrument penelitian adalah alat yang digunakan untuk merekam-pada umumnya secara kuantitatif-keadaan dan aktivitas atribut-atribut psikologis. Atibut-atribut psikologis itu secara teknis biasanya digolongkan menjadi atribut kognitif dan atribut non kognitif. Sumadi mengemukakan bahwa untuk atribut kognitif, perangsangnya adalah pertanyaan. Sedangkan untuk atribut non-kognitif, perangsangnya adalah pernyataan.

B.    Pengertian Tes dan Pengukuran
a.      Pengertian Tes
Secara harfiah, kata “tes” berasal dari bahasa Perancis Kuno, yaitu “testum” dengan arti: “piring yang digunakan untuk menyisihkan atau memilih logam-logam mulia dari benda-benda lain”, seperti pasir, batu, tanah, dan sebagainya.
Dalam bahasa Inggris ditulis dengan test yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan dengan “tes”, “ujian” atau “percobaan”. Dalam bahasa Arab: Imtihan (إمتحان). Secara istilah test adalah alat atau prosedur yang dipergunakan dalam rangka pengukuran dan penilaian. Menurut Anne Anastasi dalam karya tulisnya berjudul Psychological Testing (tes) adalah alat pengukur yang mempunyai standar yang obyektif sehingga dapat digunakan secara meluas, serta dapat betul-betul digunakan untuk mengukur dan membandingkan keadaan psikis atau tingkah laku individu.
Tes merupakan suatu alat yang digunakan untuk mengukur dan menilai  sikap dan psikoligis individu maupun kelompok guna untuk membandingkan kecapakannya berdasarkan prosedur yang tersistematis.
Menurut Sudijono dalam Djali dan Muljono (2008), tes adalah alat atau prosedur yang dipergunakan dalam rangka pengukuran dan penilaian.
Sax (1980: 13) mendefinisikan tes sebagai suatu tugas atau serangkaian tugas yang digunakan untuk mendapatkan umpan balik sistematis yang dianggap mencerminkan trait atau atribut pendidikan atau psikologi. Selanjutnya bahwa Sax juga menekankan bahwa tes, berisi tugas-tugas yang disusun untuk menghasilkan pengamatan sistematis mengenai suatu sifat (trait).
Tes sebagai alat penilaian pertanyaan-pertanyaan yang diberikan kepada siswa untuk mendapat jawaban dari siswa dalam bentuk lisan (tes lisan), dalam bentuk tulisan (tes tulisan), dan dalam bentuk perbuatan (tes tindakan). Tes pada umumnya digunakan untuk menilai dan mengukur hasil belajar siswa, terutama hasil belajar kognitif berkenaan dengan penguasaan bahan pengajaran sesuai dengan tujuan pendidkan dan pengajaran.

b.      Pengertian pengukuran
Pengukuran merupakan prosedur pemberian angka dengan mengunakan berbagai alat pada sesuatu secara sistematis untuk memproleh data- data dan suatu informasi.
Pengukuran adalah proses menggunakan alat tersebut untuk mendapatkan data. Pengukuran dimaksudkan menentukan sifat, kemampuan, dan watak seseorang atau kelompok. Nilai atau hasil pengukuran itu sendiri tidak berarti, dan baru berarti setelah dinilai dan diinterpretasikan data yang ada. Evaluasi adalah pemberian pertimbangan, makna, penilaian setelah data itu diambil. Pengukuran menentukan status, sedangkan proses evaluasi menentukan arti tentang status itu (Referensi: Bambang Priyono Adi, M.Kes dalam Tes Pengukuran dan Evaluasi, 2008).
Adapun pengertian pengukuran menurut beberapa para ahli yaitu sebagai berikut:
Ø  Scriven (1981) mengartikan pengukuran sebagai determinan atau perbedaan dari besaran atau pentingnya sebuah kuantitas.
Ø  Menurut Gronlund (1985), pengukuran adalah suatu kegiatan atau proses untuk memperoleh deskripsi numerik dari tingkatan atau derajat karakterisitik khusus yang dimiliki oleh individu.
Ø  Menurut Hopkins & Stanley (1981), pengukuran adalah suatu proses yang menggunakan peralatan yang berbeda-beda.
Ø  Sedangkan Moh. Nazir (1988) mengartikan pengukuran sebagai prosedur yang sistematis dan standar untuk memperoleh data yang diperlukan.
Ø  Sutrisno Hadi (1987) mengartikan pengukuran sebagai suatu kegiatan yang dutujukan untuk mengedentifikasikan besar-kecilnya obyek atau gejala.
Ø  Menurut Safrit & Wood (1989), pengukuran adalah proses pemberian angka-angka dari suatu obyek seseorang atau lainnya dengan mengikuti berbagai aturan.
Ø  Singarimbun & Effendi (1995) mengartikan bahwa pngukuran merupakan proses pemberian angka-angka pada variabel menurut aturan yang telah ditentukan.
Ø  Kerlinger (1995) mengartikan pengukuran sebagai pemberian angka pada obyek-obyek atau kejadian-kejadian menurut suatu aturan tertentu.
Ø  Daryanto (1999) mengartikan pengukuran sebagai suatu proses untuk memberikan angka (biasanya disebut skor) kepada suatu sifat atau karaktersitik seseorang sedemikian rupa sehingga mempertahankan hubungan senyatanya antara seseorang dengan orang lain sesuai dengan sifat yang diukur tersebut.



DAFTAR PUSTAKA


Ø  Arifin, Zainal. 2012. Evaluasi Pembelajaran. Bandung: PT. RemajaRosdakarya.
Ø  Lubis, Mawardi. 2008. Evaluasi Pendidikan Nilai. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Ø  Mulyadi. 2010. Evaluasi Pendidikan. Malang: UIN-Maliki Pers.
Ø  Purwanto, Ngalim. 1988. Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Ø  Purwanto, Ngalim. 2001. Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Prinsif dasar pelaksanan evaluasi pendidikan jasmani di sekolah

A.    Prinsif dasar pelaksanan evaluasi pendidikan jasmani di sekolah
Proses pembelajaran merupakan sebuah rangkaian kegiatan yang dimulai dari merencanakan, melaksanakan sampai dengan evaluasi serta  menyelenggarakan tindak lanjut dalam kegiatan belajar-mengajar. Tingka keberhasilan guru Pendidikan Jasmani dalam tugas mengajar, dapat dilihat dari hasil belajar yang dicapai oleh para muridnya. Untuk mengetahui hasil yang dicapai oleh muridnya tersebut, guru perlu melakukan suatu kegiatan evaluasi terhadap kegiatan belajar siswa.  Evaluasi merupakan suatu bahan yang digunakan dalam memproleh informasi.  Hasil kegiatan evaluasi tersebut akan memberikan gambaran kepada guru dalam menyusun program berikutnya.  Gambaran tersebut dapat bersifat baik atau sebaliknya, dengan demikian akan memberi kesempatan kepada guru untuk melakukan program perbaikan (remidial) atau pengayaan.

a.      Prinsip-Prinsip Evaluasi
Sebagai seorang guru yang profesional untuk melakukan evaluasi atau menilai muridnya perlu memperhatikan beberapa prinsip-prinsip penilaian sebagai berikut:
1.      Objektif
Setiap guru untuk menilai muridnya harus bersifat objektif tanpa dipengaruhi oleh pribadinya. Apa yang dinilai oleh guru tersebut tidak membedakan murid yang satu dengan murid lainnya,  yang disenangi atau tidak disenangi sehingga nilai yang dihasilkan oleh para murid tersebut betul-betul merupakan hasil yang didapatkan oleh murid sendiri yang sebenarnya.

2.      Reliabel
Dalam menilai murid dengan instrumen penilai dapat dipercaya dan diandalkan, instrumen penilaian tersebut, dilaksanakan dengan sistimatis dan kriteria yang jelas keberhasilannya serta dapat dilaksanakan oleh siapa saja.

3.      Menyeluruh
penilaian ini bersifat menyeluruh yang meliputi aspek proses pembelajaran dan keberhasilannya sehingga terlihat perubahan tingkah laku murid. Dengan demikian penilaian yang bersifat menyeluruh tersebut meliputi pengetahuan, sikap, keterampilan dan kemampuan terhadap nilai yang berlaku di masyarakat.

4.      Berkesinambungan
Penilaian dilakukan secara terencana bertahap, dan terus-menerus. Dengan demikian akan mendapatkan gambaran tentang hasil dari pembelajaran berupa perubahan tingkah laku siswa yang meliputi pengetahuan sikap dan keterampilan.

B.    Manfaat Evaluasi
Adapun manfaat yang terdapat dalam  kegiatan evaluasi pendidikan jasmani yaitu:
Ø  Evalauasi dapat memberikan dorongan atau motivasi bagi peserta didik dalam berolahraga.
Ø  Evaluasi untuk memberi bantuan dalam pengelompokan peserta didik untuk tujuan-tujuan tertentu.
Ø  Evaluasi memberikan data bukti untuk dilaporkan  kepada orang tua  dan masyarakat , yaitu pihak-pihak yang memerlukan  keterangan-keterangan  tentang seseorang anak-didik
Ø  Evaluasi bertujuan untuk mengetahui letak kelemahan-kelemahan peserta didik
Ø  Evaluasi untuk mengetahui apa yang telah  dicapai dalam pelajaran olahraga
Ø  Evaluasi dapat memberikan data untuk keperluan penelitian atau risert.
Ø  Evaluasi bertujuan untuk mengetahui  letak kelemahan dimana potensi anak-didik itu berbeda
Ø  Evaluasi  untuk mengadakan seleksi
Ø  Evaluasi dapat memberikan  bantuan dalam bimbingan kearah pemilihan yang sesuai dengan kemampuan peserta didik
Ø  Pentingnya evaluasi untuk memantau kemajuan dan pencapaian  tujuan belajar

C.     Tantangan Pelaksanaan Evaluasi Pendidikan Jasmani Di Sekolah  
Dunia yang semakin mengglobal sekarang ini, bergerak dan berubah semakin cepat dan kompetitif terutama dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Semua bidang mengalami pergeseran dan tantangan, termasuk lembaga pendidikan. Lembaga pendidikan menghadapi tantangan serius untuk mampu mengikuti sekaligus berada digarda depan perubahan global tersebut. Kalau tidak mampu menjawabnya, maka lembaga pendidikan tidak akan berwibawa di hadapan roda dinamika zaman yang berjalan dengan cepat. Bahkan, lembaga pendidikan akan dianggap tidak mampu mengantisipasi realitas kekinian yang terjadi.
Karena itu, tidak ada waktu santai bagi dunia pendidikan dalam merespon secara cepat perubahan global tersebut. Ia harus mendinamisasi diri secara massif dan akseleratif agar mampu mengejar ketertinggalan dan mampu memimpin perubahan masa depan yang meniscayakan kreativitas tinggi, produktivitas memadai, dan daya jangkau yang mendunia. Reformasi besar-besaran harus segera dilakukan lembaga pendidikan jika tetap ingin survive dan memenangkan kompetensi terbuka. Infra dan supra struktur harus dilengkapi, didefinisikan ulang, dan diorientasikan ulang secara efektif, baik konsep maupun implementasinya.
Laporan kompas (20/4/2009) menjelaskan, betapa prguruan-perguruan tinggi disingapura sudah jauh-jauh hari mengirim tim khusus untuk mengamati dan bernegosiasi dengan para pelajar berprestasi di Indonesia dengan iming-iming fasilitas memadai dan masa depan yang prospektif agar mereka melanjutkan studi dan bekerja disana. Ini adalah tamparan keras bangsa ini. Asset-aset potensial masa depan ditelantarkan bangsa sendiri dan dimanfaatkan pihak asing untuk kepentingannya.
Kalau realitasnya seperti ini, kapan bangsa ini bisa sejajar dengan bangsa-bangsa yang maju. Jika sumber daya manusia yang cerdas dan kreatif diangkut ke negeri asing dan dijadikan tenaga professional di negeri mereka, maka yang tersisa di negeri ini tentu kader-kader muda yang rendah kualitasnya, kurang percaya diri menghadapi perubahan, dan malas belajar. Kedepan bangsa ini menjadi bangsa yang miskin dan terbelakang, menjadi budak di negeri sendiri, tanahnya menjadi rebutan investor asing dan kesejahteraan semakin jauh dari harapan.
Disinilah urgensi lembaga pendidikan meneropong tantangan-tantangan dunia dengan kecepatan tinggi, mendeskripsikannya secara detail, menyiapkan langkah-langkah terukur dan sistematis, dan berjuang mewujudkan mimpi besar sebagai Negara yang melek ilmu pengetahuan dan teknologi. Murid-murid berprestasi diperhatikan dengan serius, diberikan beasiswa penuh untuk melanjutkan ke tingkat yang lebih tinggi di berbagai perguruan tinggi, baik di dalam dan luar negeri, dan memberikan prospek pekerjaan cerah sesuai dengan bidang keahliannya. dari sinilah, pelan tapi pasti, bangsa ini akan mengalami perkembangan signifikan dalam penguasaan iptek. Intinya semua berawal dari penataan lembaga pendidikan yang efektif yang melahirkan aktor-aktor  genius masa depan yang kreatif.
Prof. Dr. Mastuhu, M.Ed memotret tentang tantangan lembaga pendidikan dalam dua kategori, yaitu tantangan eksternal dan internal.
a.      Tantangan eksternal
Adapun tantangan eksternal yang dirasakan dan dialami dunia pendidikan saat ini antara lain:
1.      Globalisasi
Globalisasi sering diterjemahkan dengan istilah mendunia. Suatu entitas, betapa pun kecilnya, disampaikan oleh siapa pun, di mana pun dan kapan pun, akan dengan cepat menyebar ke seluruh pelosok dunia, baik berupa ide, gagasan, data, informasi, produksi, pembangunan, sabotase, dan sebagainya; begitu disampaikan, saat ini pula diketahui oleh semua orang di seluruh dunia.
Globalisasi, selain menghadirkan peluang positif, juga dapat menghadirkan peluang negatif, yaitu menimbulkan keresahan, penderitaan, dan penyesatan.
2.      Kompleksitas
Prof. Dr. mastuhu, M.Ed memotret tentang tantangan lembaga pendidikan dalam dua kategori, yaitu tantangan  eksternal dan internal, Menata Ulang Pemikiran Sistem Pendidikan Nasional dalam Abad 21 (2003). Kompleksitas mengesankan bahwa sesuatu terjadi secara serentak, sekaligus, dalam waktu yang sama, dan semrawut. Saat ini, semua pihak, terutama para pesaing, pemimpin perusahan, supplier, distributor, ilmuwan, dan pemimpin, berada dan berlomba dalam perubahan yang terus menerus.

3.      Turbulence
Turbulence adalah suatu daya atau kekuatan yang dahsyat bagaikan membangunkan harimau tidur di tengah-tengah system kehidupan yang berjalan rutin, normal dan damai. Turbulence berasal dari istilah yang menggambarkan kekuatan dahsyat dari tengah mesin seperti “mesin turbo” untuk menggambarkan menggambarkan kekuatan mobil yang berkemampuan tinggi. Hasil dari Turbulence adalah daya ledak atau daya ubah yang luar biasa, memporak-porandakan system peluang emas bagi para pelaku system.

4.       Dinamika
Inti pengertian dinamika adalah perubahan. Suka atau tidak suka, kita harus menyambut perubahan. Paradigma baru dalam memandang dinamika adalah makin dinamis sesuatu, ia makin stabil, dan stabilitas yang makin kokoh akan semakin menjamin dinamika tinggi pula bagaikan “gangsing” yang berputar cepat, makin cepat perputaran, makin stabil keseimbangannya. Sebaliknya, makin lambat perputaran atau gerakannya, makin tidak stabil dan akhirnya jatuh. Tetapi masalahnya adalah gerakan dinamika yang semakin tinggi juga membuka peluang benturan antara berbagai komponen atau mata rantai elemen yang menjadi unsur-unsur dari system yang bersangkutan, dan terbuka peluang catastrophes (kecelakaan atau kegagalan).

5.      Akselerasi
Akselerasi adalah gerak naik atau gerak maju yang dalam era informasi hal itu adalah perubahan, dengan kata-kata kunci akselerasi cepat dan meningkat; di dalam dunia bisnis, faktor kunci yang menentukan sukses adalah kompetisi.

6.      Keberlanjutan dari Kuno Menuju modern
Ada suatu kenyataan bahwa yang modern tidak begitu saja lahir dan mengada atau exist tanpa yang tradisional. Sebaiknya, yang tradisional hanya akan menjadi dongeng masa lalu tanpa diinjeksi dengan temuan, nilai, pemikiran, semangat, dan harapan baru. Dalam zaman modern ini, orang dituntut untuk tetap melestarikan nilai-nilai lama, yang luhur yang bermoral dan seterusnya, sekalipun dari dimensi teknokratiknya terdapat hal-hal tertentu yang harus sudah ditinggalkan karena sudah tidak cocok lagi dengan masalah yang dihadapi dengan tetap bersumber pada nilai-nilai luhur (moral) dari ajaran agama dan nilai kemanusiaan yang terus berkembang dalam budaya dan pandangan hidup bangsa. Kata-kata kunci untuk menyambut yang kuno dan yang modern adalah tetap dalam perubahan, bahkan mengantisipasinya, dan menyadari sepenuhnya bahwa perubahan-perubahan yang bergerak maju dan semakin cepat itu tidak selalu bergerak linear menurut hukum sebab akibat dan dapat diprediksi.

7.      Konektivitas
Dalam zaman modern ini, tidak ada satu entitas yang mampu berdiri sendiri. Semuanya terkoneksi antara satu dengan yang lain dalam suatu jaringan kerja. Koneksitas bukan hanya sekedar jaringan kerja computer dan jaringan global, melainkan suatu fenomena di mana suatu entitas dari suatu kemajuan teknologi dapat masuk ke dalam suatu jaringan kerja global. Saat ini, kita sulit mengisolasi diri tetap dalam kehidupan alami tanpa terkontaminasi oleh kehidupan modern yang penuh dengan rekayasa dan barang pengawet.

8.      Konvergensi
Konvergensi muncul bila dua system yang berbeda bergerak menuju satu titik temu atau suatu pola tanpa meleburkan diri ke dalam satu system. Namun, berkat teknologi yang semakin canggih dapat diperoleh model baru yang lebih efektif, produktif, efisien, murah, dan dengan kualitas yang lebih baik. Dalam era informasi global, terjadi konvergensi yang membawa benturan ide, tradisi, system, dan sebagainya. Dari silang pendapat ini kemudian terdapat nilai-nilai baru yang secara universal dapat diterima oleh semua pihak, disamping tetap menyisakan nilai-nilai lama yang berbeda.

9.       Konsolidasi
Pada era global, terdapat kecenderungan dari berbagai subsistem yang tadinya independen kemudian mengadakan konsolidasi ke dalam kesatuan unit atau blok yang lebih besar sekaligus dengan strategi baru untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. Kebutuhan untuk melakukan konsolidasi tidak terbatas pada bidang bisnis saja, tetapi juga pada semua bidang, termasuk bidang agama.

10.  Rasionalisasi
Semua system dalam era globalisasi cenderung berpikir ulang dan mengevaluasi kembali alat-alat dan strateginya agar lebih efektif, efisien, dan produktif dalam mencapai tujuannya. Sering kali hal itu dilakukan dengan men-setting ulang atau merumuskan kembali tujuan yang ingin dicapai atau meredefinisikan visi, misi, orientasasi, tujuan, strategi, alat, SDM-nya, dan sebagainya; demi tercapainya cita-cita yang dituju.

11.  Paradoks Global
Paradoks global benar-benar telah membudaya dalam tata kehidupan modern di abad ke-21. Paradoks merupakan suatu perumusan atau pernyataan yang absurd, membingungkan karena tampak bertentangan. Sebab, di dalamnya berisi dua entitas yang saling bertentangan satu sama lain, tetapi dikemas dalam satu perumusan atau satu pernyataan. Meski demikian, paradoks tetap abash dan dibenarkan, misalnya “ lebih sedikit adalah lebih banyak”. Pernyataan tersebut berasal dari bidang arsitektur yang maksudnya adalah makin sedikit anda mengacaukan suatu gedung dengan hiasan, makin anggun gedung dimaksud.
Paradoks merupakan keniscayaan yang tidak terhindarkan dalam kehidupan. Tetapi, paradoks dalam kehidupan modern terasa lebih menggugah dan mendorong untuk berpikir lebih tajam dan cerdik.

12.  Kekuatan Pikiran
Sejarah mencatat, orang berilmu selalu mendapatkan kedudukan social yang lebih tinggi dan penting. Makin tinggi ilmu yang disandangnya, makin tinggi dan penting kedudukan sosialnya. Sebaliknya, jika makin maju dan modern suatu masyarakat, maka makin memberikan peluang bagi warganya untuk meraih ilmu dan kedudukan yang lebih tinggi. Kekuatan dan kemampuan ilmu dapat lebih cepat dan lebih dahsyat dari pada perkembangan pemikiran penciptanya. Sering kali manusia yang menciptakannya terkejut dan terjeran-heran menyaksikan dampak atau implikasi dan temuannya. Denis Waetley, dalam Jamal Ma’mur Asmani mengatakan bahwa pengetahuan adalah kekuasaan.

b.      Tantangan Internal
Selain tantangan eksternal, tantangan internal pendidikan Indonesia adalah kebijakan pemerintah yang masih belum progresif, baik Orde Lama, Orde Baru, dan Orde Reformasi.
Pertama, Orde Lama (1945-1965). System Pendidikan Nasional diselenggarakan berdasarkan Undang-undang No. 4 Tahun 1950 dan dengan UU No. 12 Tahun 1945 yang menyatakan berlakunya UU No. 4 Tahun 1950 di seluruh Republik Indonesia, selanjutnya dilengkapi dengan persetujuan parlemen, dan beberapa Kepres yang mengiringinya untuk kebijaksanaan-kebijaksanaan yang levelnya instrumental dan operasional. Misalnya, inpres No. 8 Tahun 1955 tentang pedoman belajar di luar negeri, UU No. 8 Tahun 1990 tentang Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), PP No. 38 Tahun 1992 tentang Tenaga Kependidikan dan sebagainya.
Kedua, Orde Baru, dari 1965-1998, System Pendidikan Nasional diselenggarakan berdasarkan UU no. 2 Tahun 1989, dan diikuti dengan perraturan-peraturan pemerintah pelaksanaannya seperti PP No. 27 tahun 1990 tentang pendidikan pra sekolah, dan PP No. 28, 29, dan 60 Tahun 1990 bertutur tentang pendidikan Pendidikan Dasar Menengah, dan Pendidikan Tinggi, dan sebagainya.
Seiring keadaan tersebut, UU No. 2 tahun 1989 yang merupakan produk Orde Baru, juga semakin terasa ketidaksesuaiannya dengan tuntutan global. Dalam pelaksanaan UU No. 2 Tahun 1989 sangat terasa:
Ø  Setralisasi. Kerja pendidikan diatur secara memusat, dari pusat sampai ke pelosok-pelosok daerah yang sangat terpencil, meliputi kurikulum, metode ajar, tenaga kependidikan, penilaian, ijazah, otoritas penyelenggaraaannya, dana sarana, dan sebagainya.
Ø  Tidak demokratis. Adanya sekolah-sekolah negeri dan swasta yang berbeda secara diskriminatif, meliputi dana, sarana, otoritas, dan pengakuan terhadap ijazahnya. Baik buruknya sekolah swasta diakui dan ditentukan oleh pemerintah, bukan oleh pasar dan pengguna jasa pendidikan, dan sebagainya.
Ø  Penyelenggaraan lembaga-lembaga pendidikan dilaksanakan di bawah otoritas kekuasaan, lengkap dengan otoritas administrasi berakurasi pemerintahan. Padahal, pendidikan adalah kerja akademik dan bukan kerja perkantoran pemerintahan. Tidak berbeda antara menyelenggarakan kantor camat atau kelurahan dengan menyelenggarakan sekolah atau perguruan. Hal ini berlaku untuk semua jenis dan jenjang pendidikan. Misalnya, penyelenggarakan perguruan tinggi (PT).


DAFTAR PUSTAKA
Ø Al-Ghazali, Imam  “Mukhtashar Ihya’ Ulumuddin(Ringkasan Ihya’ Ulumuddin), Penerjemah Zeid Husein Al-Hamid, Pustaka Amani, Cetakan II,   Jakarta Agustus 2007.
Ø Asmani, Ma’mur Jamal, Manajemen pengelola Kepemimpinan Pendidikan Profesional, DIVA Pres, Yogyakarta, Cet. I, Juni 2009.
Ø Danim, Sudarwan, Prof. Dr, Visi Baru Manajemen Sekolah Dari unit Birokrasi ke lembaga akademik, Bumi Aksara, Jakarta, Cet. 3, Juli  2008.
Ø Hamdan, H, Drs. M.Pd.I, Paradigma Baru Pendidikan Muhammadiyah, Ar-Ruzzmedia, Jakarta, Cet. I, Januari 2009.
Ø Hasbullah, M.Pd, Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan, CV. Rajawali Pers,  Jakarta, Cet. I,  1997.

Ø Herabudin, Drs. M.Pd, Administrasi dan Supervisis Pendidikan, CV. Pustaka Setia,  Bandung, Cet. I,  2009